Denah Padepokan Pencak Silat Tjimande H. Sugito

Rabu, 05 November 2008

Suhartono: Taking pencak silat overseas



Indonesia suffered a setback when pencak silat champion Diyan Kristianto was injured while fighting Brunei Darussalam's Amirul Ahati during the recent Bali Asian Beach Games.

Ironically, the man who brought the Bruneian competitor to the point where he could vanquish a master of Indonesia*s home grown sport is himself Indonesian.

Suhartono, a former Indonesian pencak silat champion himself, began his journey to international prominence in 1995, when Vietnam asked the Indonesian Pencak Silat Federation (IPSI) to help them find a coach for their pencak silat team.

Jumat, 18 Januari 2008

Silat Tjimande, Riwayatmu Kini

Khasanah persilatan Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kata Cimande. Sebuah aliran pencak silat yang tergolong besar, terkenal dan memiliki pengaruh besar pada aliran lainnya di Jawa, Indonesia hingga luar negeri. Bagi khalayak umum di JABODETABEK, Cimande lebih dikenal sebagai ahli patah tulang yaitu memperbaiki tulang yang patah dengan cara tradisional. Begitulah cimande yang dikenal umumnya.

Untuk lebh mengenal lebih dekat apa itu Cimande, sabagai aliran Pencak Silat, Forum Pecinta dan Peletari Silat Tradisional (FP2ST) mengadakan kunjungan ke jantung Cimande yaitu desa Tarikolot.
 
Talang Dua
Dengan menggunakan dua mobil yang ditumpangi 10 orang, kami berangkat dari Jakarta ke arah Bogor/Ciawi. Hanya satu jam di jalan tol, kemudian keluar dan berbelok ke arah jalan raya sukabumi. Tidak berapa lama, kita akan menemui talang satu yaitu talang air yang melintang dan berada di atas jalan raya. Konon talang ini sudah ada sejak jaman Belanda dan merupakan sarana pengairan baik untuk sawah maupun kebutuhan lainnya dari penduduk setempat.
 
Agak jauh dari talang satu, kita akan menemui talang yang kedua (talang dua), biasanya di sisi kiri jalan sudah mulai banyak papan nama yang bertuliskan ‘ahli mengobati patah tulang’. Berjarak sekitar 3-5 meter dari talang dua ini, ada jalan raya ke kiri yang agak menanjak. Di ujung jalan ini dipenuhi tukang ojek. Kondisi jalan sudah beraspal dan tidak berapa lebar sehingga menyulitkan jika ada 2 mobil yang berpapasan dari arah yang berlawanan.

Tarikolot
Rombongan kemedian menyusuri jalan aspal yang agak sempit namun bisa dilalui satu mobil ini. Melewati jalan yang berliku, naik turun, rumah penduduk, persawahan dan setelah sekitar 2-3 kilometer akan bertemu dengan simpang 3, dengan papan penunjuk jalan bertuliskan ‘Tarikolot’. Maka berbeloklah ke kiri, ke arah tarikolot, dengan jalan yang menurun dan sempit. Berada di daerah yang tergolong cukup tinggi, hawa di tarikolot tergolong sejuk dan menyegarkan.

Tidak jauh dari simpang tiga ini, di sebelah kiri jalan kita akan menemui rumah salah seorang tokoh dan sesepuh pencak silat Cimande, Bpk Acep Sutisna.



Cimande, Sungai yang mengalir
Gerimis menymabut rombongan, ketika keluar dari mobil dan bergegas menuju rumah Pak Ace Sutisna yang sebelumnya sudah diberitahu via sms.

Setibanya di rumah kami disambut oleh Pak Ace, juga anaknya Kang Asep. Bagi yang pertama kali bertemu, sosok Pak Ace memang terkesan biasa saja. Tidak terlihat kesan sangar bahwa dia seorang pendekar Cimande yang mumpuni. Tubuhnya malah tergolong kecil dan kurus tanpa kumis atau jenggot yang menyeramkan. Tidak juga telihat akar bahar dan gelang hitam di pegelangan tangnnya, sebagaimana citra dan kesan orang akan pendekar cimande nan sakti.

Soal penampilannya ini, Pak Ace berkisah, pernah ada tamu dari jawa timur atau daerah lainnya yang ketika bersalaman dengan beliau dengan ragu bertanya untuk memastikan apa benar berhadapan dengan Pak Ace yang Pendekar Cimande. Kendati sudah dijawab bahwa beliau sendiri adalah Pak Ace, tamu tersebut masih juga kurang percaya,sehingga dalam pembicaraan selanjutnya tidak kurang hingga tiga kali tamu tersebut bertanya lagi memastikan apa benar berhadapan dengan Pak Ace yang terkenal itu. Mungkin citra pendekar cimande yang dibayangkan berbeda dengan kenyataan.
Sungguh, kita tidak bisa menilai orang sekedar dari penampilan lahiriah/luarnya. Kata thukul “itu kan Casing-nya” (maksudnya: kulitnya saja…)

Lalu Pak Acep mulai bertutur soal Cimande. Menurut beliau, Desa Tarikolot dapat dianggap sebagai sumber dan asal usul cimande. Di desa ini yang kebanyakan adalah keturunan Eyang Rangga, yang memiliki murid berbakat yaitu Mbah Khair (Pencipta Cimande), yang di kemudian hari terkenal dan diyakini sebagai pencak silat Cimande. Hingga saat ini ilmu warisan karuhun tersebut masih dilestarikan dan terus dikembangkan khususnya di Kampung Tarikolot, Desa Cimande.

“Bisa dikatakan setiap rumah berlatih dan memiliki tradisi cimande sendiri sendiri”, ujar Pak Ace. Memang kendati Cimande diyakini diciptakan oleh Eyang (Mbah) Kahir, beliau tidaklah memiliki keturunan, sehingga para muridnya dan keturunan dari Eyang Ranggalah yang melestarikan dan meneruskan amanat leluhur ini.
Cimande sendiri adalah nama sungai di bawah desa yang mengalir dan di tepi sungai itulah dulunya Eyang Khair tinggal sehingga aliran pencak silat yang diwariskan oleh beliau dinamakan aliran cimande. Di dekat sungai inilah dulunya Eyang Khair bertempat tinggal dan di sungai tempat murid-murid Cimande berlatih maenpo. Belakangan makna baru diberikan bagi nama cimande baik dalam konteks bernuansa religi maupun budaya Sunda.


Cimande sebagai sumber dan memiliki 5 aspek
Pak Ace menjelaskan bahwa cimande memiliki 5 aspek, dan bukan sekedar 4 aspek, dalam maenpo-nya (pencak silat sunda) yaitu aspek olahraga, seni budaya/tradisi, beladiri, spiritual dan pengobatan. Aspek terakhir yaitu pengobatan termasuk pijat/urut gaya cimande dan pengobatan patah tulang.

Dalam proses pijat dan pengobatan ini biasanya digunakan minyak cimande. Ditambahkan oleh Kang Asep, anak kandung dari Pak Ace, bahwa semuanya berasal dari pencak (maenpo) cimande. Minyak cimande yang unsurnya pembuatnya terdiri dari minyak kelapa dan sari tebu dan lainnya ini, dulunya dinamakan ‘minyak pencak’. Minyak ini digunakan ketika berlatih sambut tangan dalam aliran cimande.

Demikian juga tehnik dan cara pengobatan patah tulang, yang belakangan berkembang untuk pengobatan kesehatan lepas dari pencak silat, sebagai pelayanan kepada masyarakat. Pengobatan patah tulang sebenarnya adalah bagian dari pelajaran pencak cimande akan pengenalan anatomi tubuh; termasuk kekuatan dan kelemahannya serta bagaimana cara memperbaiki atau merusaknya. Tentu saja dalam pengobatan patah tulang adalah bagaimana cara memperbaikinya.

Dalam memberi pelayananan urut atau pengobatan patah tulang, umumnya ahli atau pendekar cimande kurang mau mempublikasikan diri. Agar menghindari ria-takabur sebagaimana diamanatkan oleh talek Cimande. Pada kesempatan yang langka ini, banyak juga anggota rombongan, termasuk penulis, yang merasakan langsung pijatan dan urut-an khas cimande lengkap dengan minyak cimande yang demikian cepat meresap ke kulit.
 
Pencak Silat Cimande
Dalam pandangan Pak Ace, pencak silat cimande sebenarnya bagian dan keseharian dari kehidupan kita manusia. Misalnya jika ada yang mau memukul, secara refleks tangan kita menagkis. Atau jika mau jatuh, maka tubuh dan kaki kita langsung menyesuaikan.

Hanya saja oleh Abah Khair, hal tersebut diramu dan dirumuskan dalam bentuk pelajaran yang tersistematis dan gampang untuk dipelajari..Jadilah maenpo Cimande.

Seperti sudah banyak diketahui khalayak, aliran cimande terdiri dari 33 jurus kelid cimande, pepedangan dan tepak selancar. Tangan adalah permainan dominan. Kaki lebih merupakan pancer dan tempat berpijak yang harus dijaga keseimbangannya.

Menurut Kang Asep, saat ini cara berlatih cimande sedikit disempurnakan , yaitu dengan cara menghapal jurus etrlebih dahulu dengan benar hingga 33 jurus, sambut berpasangan, lalu belajar pepedangan dan diakhiri dengan tepak salancar.

Dengan hapal dulu jurus yang 33 itu diharapkan siswa dapat mengetahui gerakan yang benar, cara menangkis, mengelak , memukul dan lain lain. Dalam satu jurus ada yang satu gerakan atau 4-5 gerakan,.
“Sederhana dan tidak panjang-panjang sehingga gampang dihapal”, tukas Kang Asep. Sesudah itu diolah lebih lanjut dalam rangkaian gerak baik dalam bentuk sambut berpasangan dengan posisi duduk (atau kadangkala berdiri) yang disusul dengan pepedangan. Dalam “sambut-tangan” dalam duduk berpasangan ‘mengadu tangan’, dengan tingkat kekuatan tenaga yang semakin meningkat. Akhir semua pelajaranbaru diberikan tepak salancar.

Cara ‘adu tangan’ ini juga sebenarnya banyak tehnik dan menggunakan tenaga dengan efektif. Hal inilah yang mengesankan bahwa praktisi Cimande memiliki tangan yang kuat laksana besi dengan otot-otot kawat yang keras dan pejal. Tapi melihat tangan Pak Ace dan Kang Asep, terlihat biasa saja, seperti tangan orang biasa, tidak tampak otot-otot menonjol bak atlit binaraga. “Tangan yang kuat diperlukan untuk membendung serangan lawan”, kata Kang Asep. Sebagai sarana pertahanan dan sekaligus alat serangan, tangan dalam cimande mendapat latihan secara khusus, melalui sambut maupun latihan benturan lainnya.

Prihatin
Menilik perkembangan Cimande sebagai aliran silat yang besar dan berpengaruh dalam jagat persilatan dunia, Pak Ace sebenarnya turut berbesar hati. Namun hal tersebut kurang diimbangi dengan kuatnya persatuan dan persaudaraan pada tubuh internal kelaurga cimande khusunya mereka yang berada di desa tarikolot sebagai pusat dan sumber cimande. “iutlah sebabnya saya tidak setuju nama cimande dibawa-bawa dalam kegiatan dukung mendukung kontestan pilkada atau berpolitik lainnya”, tegas PakAcep.

Sebagai suatu aliran, cimande hendaknya netral dan lebih menekankan faktor budaya dan akhlak sesuai talek cimande, yang adalah semestinya pegangan utama para pelaku Cimande. Belum lagi kalo mengalami ‘kejatuhan’ maka akan merusak cimande secara keseluruhan.

Kendari demikian tetap saja, sebagai manusia, masih ada kelemahan. Ada yang silau oleh kesaktian hingga mengklaim bahwa ilmu kanuragan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Cimande. Ada yang terperangkap oleh jeratan fulus alias duit sehingga mau melakukan apa saja yang tidak ada hubungan dengan pencak silat ataupun semata demi komersialisasi sehingga dengan mudah dimanfaatkan pihak luar untuk kepentingan mereka. Kendati kita dapat menemui beberapa padepokan cimande yang ada di Desa Tarikolot, sayangnya antara satu padepokan dengan yang lainnya terjalin hubungan yang agak longgar dan kurang rapat-erat.

Sungguh suatu kondisi yang memprihatinkan, ungkap Pak Acep. Sambil berharap agar keadaan dapat lebih baik dengan berbagai daya upaya untuk memperbaikinya.

==

Inilah Cimande dengan berbagai kelebihan dan masalahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Cimande tetaplah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan bersama.
Setelah ‘mengecap’ Cimande dan bersentuhan langsung dengan pendekar-nya, rombongan FP2STI pun kembali ke Jakarta, ketika gelap mulai turun dan malam yang mendung datang menjelang.
Jakarta, 27 Desember 2007

Ian Syamsudin
(edit 18 januari 2008)
Artikel ini pernah di Publikasi di Koran POSKOTA pada bulan Januari 2008

by: http://pencaksilat.wordpress.com/2008/05/23/cimande-riwayatmu-kini/

Selasa, 01 Mei 2007

Silek Kumango, Silat Istimewa dari Nagari Kumango


Nama Silek Kumango untuk kalangan persilatan tanah air bukanlah nama asing lagi apalagi nama perguruan besar seperti Baringin Sakti atau Satria Muda Indonesia (SMI) mengembangkan ilmu silat  dari aliran Silek Kumango ini. Itu sebabnya mengapa pada diskusi Silat bulan April yang diadakan oleh FP2STI (forum pencinta & pelestari silat tradisional indonesia) topik Silek Kumango menjadi salah satu bahan diskusi yang di usung.

Laksana gayung bersambut keinginan FP2STI ini di amini oleh pihak IPSI kabupaten tanah datar yang secara sukarena mengirimkan para datuk dan pendekar silatnya untuk berbagi ilmu silek kumango kepada para anggota komunitas SilatIndonesia.com.

Kamis, 05 Mei 2005

The History of Pentjak Silat Poekoelan Tjimande Batin

School of the Five Dragons Pentjak Silat Poekoelan Tjimande Banten History:

Indonesia is the worlds largest archipelago, consisting of 13,677 islands. The largest islands are Java, Sumatra, Kalmantan (South Borneo ), and Irian Jaya ( Western New Guinea ). The diversity of people and tribes also developed over 250 distinct languages and cultures. People have lived on these islands for over 500,000 years. They called them Dwipantara or Nusantara, which means archipelago.

In 1850 Indonesia was given it’s name by James Richardson Logan, a name consisting of two Greek words: Indo ( India ) and Neseos ( Islands ), or in other words islands which received much cultural influence from India. Hinduism and Buddhism became one religion in Indonesia. Hindu-Buddhism had a profound effect on early Indonesian history and the development of the native martial arts.

Two major kingdoms grew up in Indonesia, the first was called the Sriwijaya Empire, which began in the 5th century. The second was the famous Majapahit Empire, which began in the 13th century and which eventually extended it’s power all the way to the Philippeines. The Empire fell in 1520.

In 1275 Islam was introduced to the Indonesian islands by merchants from India and Persia. In the 15th century various western nations occupied Indonesia for the purpose of exploiting it’s rich natural resources.

In 1511 the Portuguese briefly occupied Indonesia. In 1596 the Dutch took over and occupied the Indonesian islands with a harsh grip until World War II, when the Germans invaded Holland and the Japanese took control of Indonesia. Soon after Japan’s military collapse in 1945, the Dutch returned with the hope of retaking their old colony . This time however they failed after a savage struggle for control of Indonesia.

The Dutch ultimately surrendered sovereignty to the Indonesian people in 1949. Some of the countries which occupied Indonesia influenced the Indonesian martial arts by bringing their culture and their own system of fighting. The Indonesian people throughout history have always adapted what they thought was usable from the various martial arts systems.

Like the USA, Indonesia is a melting pot of nationalities. This wide variety of people has given Indonesia one of the widest and most balanced forms of self defense in the world. The Indonesian art of Pentjak Silat had been developing for 4000 years.

Indonesia has over 150 separate styles of combat, collectively known as Pentjak Silat. The term Pentjak Silat is the overall name for all systems of Indonesian fighting arts.

The Cun Tao that we study here at Five Dragons is derived from the Chinese colonists that made Indonesia their home hundreds of years ago. Pentjak Silat is therefore a strong blend of Chinese and Indonesian fighting arts. The Poekoelan Tjimande system( Pukulan Cimande ) is a selective blend of Chinese Cun Tao and Indonesian Pentjak Silat.

On the western end of the island of Java is a small village called Tjimande. Here the Poekoelan Tjimande system was developed through the cooperative efforts of a Chinese master of Chuan Fa, Oei Kem Boen ( 1870-1965 ), and a Poekoelan master named Mas Djut (1840- 1930).

Oei Kem Boen was hired by the Dutch secret service to locate rebel forces wishing to overthrow the Dutch government in Indonesia. That is where Boen met Mas Djut and was shocked by Mas Djut’s lower body leg kicking style as Djut was impressed by Boen when he got around his kicking style and broke through his upper body guard. Both masters became great friends and practiced together for three years merging and blending their fighting styles together as one.

They named the new style Tjimande after the village in Java where they met. Poekoelan Tjimande was brought to the United States of America in 1956 by Maha Guru Aeong Mas Willy Wetzel ( 1920-1975 ). He called this Silat style Seti Hati Pukolan Serak Tjimande.

Willy Wetzel was part Indonesian and Dutch. Born and raised in Indonesia he could speak all three languages. At 9 years old Willy met Oei Kim Boen who recruited him to help locate secret rebel training camps in return for fighting lessons. At age 14 Willy asked Boen to teach him everything he knew about fighting so he could become a master like Boen. At age 17 Willy joined the Dutch secret service to locate leaders of rebel factions. He traveled throughout Indonesia as a Pentjak Silat historian learning all the new Silat he could.

Poekoelan means “ a series of blows with returning hands and feet “. Tji means “ beautiful “ mande means “ flowing waters “. Banten means “within the heart”. To really progress in the arts, a student has to achieve humbleness, have a serene heart and a selfless attitude.

You are not bound or restricted to any one form, rather you are free and encouraged to seek and adapt what is right for you and discard the rest.

Pentjak Silat Poekoelan Tjimande Banten is known as the flower system and has as it’s symbol the beautiful rose. The rose is sweet smelling, beautiful flower, but it’s beauty is deceiving for it bears sharp thorns for it’s protection. The Poekoelan crawl is also beautiful to watch but just as the rose, it’s beauty is deceiving and deadly to the unwary aggressor. Thus, the symbol of our style is the rose with it’s thorns and three leaves mounted on a black background, framed on two sides with bamboo. Each part having a symbolic meaning:

The rose petals represent your individual crawl or movements. Just as no two roses are alike, neither are any two individual crawls alike, but yet it is easily recognized for what it is. The black background on which the rose is mounted represents the secret mystery and knowledge that you hold within you. The bamboo represents your ability to bend and yield which allows you to return unharmed and unbroken. For even the massive oak will fall and break in a violent storm, yet the frail but pliable bamboo will yield momentarily to the overwhelming wind only to snap back fiercely the moment it lets up. The bamboo which forms a frame around the rose also symbolizes your school. The meaning being that within the walls of the school you gain your knowledge and there it is to remain. The three leaves on the stem of the rose symbolizes the three fold aim of the Pentjak Silat student and is known as the Triad:

  1. Willingness to learn through self sacrifice
  2. Loyalty to one’s nation
  3. Devotion to your God

Pentjak Silat Poekoelan Tjimande Banten has as it’s ultimate goal the acheivment of perfect health and tranquility by the way of movement, continuous and precise. Through a varied sequence of complimentary and contrasting movements which by their vary nature create stability, vitality and balance which unites controlled energy with awareness. In essence, Active Meditation.

The majority of our style is adapted from nature itself, in the form of it’s animals; the combined is called Binatung Ampat. Which are comprised of the following animals:
  • Tiger ( Matjatan ) from which we get our lo to the ground ripping motions, sweeps, springing shears or scissors, rolling elbows and knees.
  • Snake ( Oeler ) from which we get our weaving of arms, body and legs. Lightning fast striking out of any position.
  • Monkey ( Monjet ) from this animal we get our paries, crawl and low movements. Also we get our rolls, jumping, leaping and medium height positions.
  • Crane ( Blekok ) from this beautiful and graceful bird we get our various fist blows and parrying movements. We also learn balance and stability from the agile movements of the crane and the ability to strike from a one legged position.


The movements of animals play a big part in the development of this mystical art, however, developed far beyond mere animal movements to a point of utilizing the laws of physics, a knowledge of anatomy and an understanding of human behavior.

There is an old saying among Silat people that goes, “ You do not chose Silat, Silat chooses you” The art itself selects its worthy students and ultimately becomes your way of life!!

Witten by John Sokolsky and Nicklaus Sokolsky
Teachers of Indonesian Pentjak Silat Poekoelan Tjimande Banten, Cun Tao
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...